Ramadan Produktif, Rutan Majene Panen Pakcoi 5Kg

MAJENE, PROSULBAR.COM – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Majene memanen sebanyak 5 kilogram pakcoi di Branggang Rutan Majene, Selasa (24/02/2026).

Kegiatan panen ini, merupakan hasil dari program pembinaan kemandirian di bidang pertanian yang secara konsisten, yang dilaksanakan sebagai bagian dari pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), khususnya selama bulan suci Ramadan.

“Kegiatan ini terdiri dari proses penanaman bibit, perawatan tanaman, pemupukan, hingga masa panen yang diikuti WB dan peserta program kemandirian di bawah pengawasan petugas,” terang Kepala Rutan Majene, Christy Jozef Thenu.

Program pembinaan lanjutnya, untuk meningkatkan keterampilan, menumbuhkan etos kerja, serta membekali WB dengan kemampuan produktif yang dapat dimanfaatkan setelah selesai menjalani masa pidana.

Christy Jozef Thenu menjelaskan, panen pakcoi bukan sekadar aktivitas bercocok tanam, melainkan bagian dari strategi pembinaan yang dirancang secara terstruktur dan berkelanjutan untuk membentuk karakter WB agar lebih disiplin, bertanggung jawab, serta memiliki keterampilan yang aplikatif.

“Momentum Ramadan dimanfaatkan untuk menanamkan nilai produktivitas yang sejalan dengan pembinaan spiritual. Melalui program ini, kami ingin membuktikan bahwa pembinaan di Rutan tidak berhenti pada aspek pengamanan, tetapi juga menyentuh sisi pengembangan kapasitas diri WB,” tuturnya.

Dijelaskan, Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk menggabungkan pembinaan spiritual dan pembinaan kemandirian agar WB tidak hanya menjadi pribadi yang lebih religius, tetapi juga lebih siap secara mental dan keterampilan ketika kembali ke tengah masyarakat.

“Hasil panen 5 kilogram pakcoi ini adalah simbol dari proses panjang yang mereka jalani dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab,” jelasnya.

Ia menegaskan, bahwa pihaknya akan terus mengembangkan program pertanian sebagai salah satu sektor unggulan pembinaan kemandirian di Rutan Majene.

BACA JUGA:  Presiden Resmikan Pabrik Vaksin COVID-19 Berbasis mRNA Pertama di Asia Tenggara

“Keberhasilan ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa percaya diri WB serta menjadi motivasi untuk terus menghasilkan karya positif. Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan program produktif yang berdampak nyata,” ulasnya.

Ke depan, tidak hanya pakcoi, tetapi juga jenis tanaman lain untuk dikembangkan agar keterampilan WB semakin variatif. “Dengan bekal ini, WB memiliki peluang yang lebih besar untuk mandiri secara ekonomi setelah menyelesaikan masa pidana. Inilah bentuk nyata implementasi nilai IMIPAS PRIMA yang kami pegang teguh,” paparnya.

Ditempat yang sama, Pembina Kemandirian Munardi menuturkan, proses budidaya pakcoi membutuhkan ketelitian sejak tahap penyemaian hingga panen. Ia menerangkan bahwa WB diajarkan teknik dasar pertanian, mulai dari pengolahan media tanam, pengaturan jarak tanam, penyiraman yang teratur, hingga pengendalian hama secara sederhana.

“Keterlibatan aktif WB dalam setiap tahapan agar memahami proses secara menyeluruh dan tidak hanya sekadar menjalankan instruksi. Dalam prosesnya, kami tidak hanya meminta bekerja, tetapi juga memberikan pemahaman tentang bagaimana tanaman dapat tumbuh optimal, bagaimana mengatasi kendala di lapangan, serta bagaimana menjaga konsistensi perawatan,” jelasnya.

Dari sini WB belajar tentang kesabaran, ketekunan, dan kerja sama tim. “Hasil panen hari ini adalah buah dari proses belajar tersebut, dan kami melihat adanya peningkatan semangat serta rasa tanggung jawab dari warga binaan yang terlibat,” tuturnya.

Seorang WB Rutan Majene Asmadi merasa bersyukur dapat dilibatkan dalam kegiatan pertanian. Ia mengaku, program pembinaan memberikan pengalaman baru yang sangat berarti selama menjalani masa pembinaan.

“Melalui kegiatan bercocok tanam, saya belajar tentang kedisiplinan waktu, tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan, serta pentingnya kerjasama dengan sesama warga binaan. Awalnya saya tidak memiliki pengalaman bertani, tetapi melalui bimbingan dari petugas, saya mulai memahami bagaimana cara merawat tanaman dengan baik,” akunya.

BACA JUGA:  20 PTN Terbaik Bidang Seni dan Humaniora versi SIR 2022

Selain itu, Asmadi juga merasa mendapat kepercayaan untuk mengelola tanaman hingga panen. “Semoga ilmu yang kami peroleh di sini dapat menjadi bekal ketika kami kembali ke masyarakat nanti,” ujarnya.

Ia berharap, program pembinaan kemandirian akan terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan dapat menjangkau lebih banyak WB agar semakin banyak yang merasakan manfaatnya.

“Harapan saya, kegiatan seperti ini tidak berhenti sampai di sini. Kami ingin terus belajar dan mengembangkan kemampuan agar ketika bebas nanti, kami memiliki peluang untuk bekerja atau bahkan membuka usaha kecil sendiri. Kegiatan ini memberi kami harapan baru untuk masa depan yang lebih baik,” ungkapnya. (rls/hmn)

Komentar