MAJENE, PROSULBAR.COM – Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Majene menyambut kunjungan Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Barat (Sulbar) bersama rombongan.
Dalam kunjungan itu, untuk melihat lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) milik Rutan Majene yang berlokasi di Lingkungan Mangge Kelurahan Baru Kecamatan Banggae, Selasa (10/02/2026).
“Kunjungan kita ini, dalam rangka memantau kesiapan penyiapan lahan SAE Rutan Majene yang direncanakan menjadi lokasi percontohan bagi seluruh UPT (Unit Pelaksana Teknis) Pemasyarakatan di wilayah Sulbar,” terang Ramdani Boy Kepala Kanwil Sulbar.
Selain itu, kunjungan merupakan bentuk dukungan terhadap pelaksanaan Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya pada poin penguatan ketahanan pangan nasional serta mengoptimalkan program pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan (WB).
“Program ini, untuk menyediakan wadah edukasi pertanian yang produktif, sekaligus mendukung program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, yaitu kemandirian pangan di lingkungan pemasyarakatan,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini lanjut dia, dilaksanakan Tim SAE Tarukkung Rutan Majene yang diketuai Munardi selaku Pembina Kemandirian dan dipantau langsung Kepala Rutan Kelas IIB Majene Christy Jozef Thenu.
Ramdani Boy mengapresiasi kerja keras jajaran Rutan Majene dengan inisiatif. “Lahan SAE ini bukan sekadar kebun, tapi simbol transformasi WB menjadi insan yang produktif dan siap mendukung ketahanan pangan nasional sesuai arahan Presiden,” ujarnya.
Lebih lanjut menjelaskan, bahwa proyek akan menjadi standar baru di wilayahnya. “Kami ingin menjadikan SAE Rutan Majene sebagai pilot project. Jika ini berhasil, pola pembinaan kemandirian seperti ini akan kami replikasi ke seluruh UPT Pemasyarakatan di Sulbar agar dampaknya dirasakan lebih luas,” ulasnya.
Di tempat yang sama, Kepala Rutan Majene, Christy Jozef Thenu menjelaskan, kesiapan lahan sudah mencapai tahap optimal. “Kami berkomitmen penuh mendukung program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Lahan ini adalah ruang bagi WB untuk membuktikan bahwa mereka bisa berkontribusi positif bagi kedaulatan pangan negara,” paparnya.
Dikatakan, program ini merupakan bagian dari akselerasi 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. “Fokus kami adalah kemandirian. Kami ingin WB memiliki bekal yang kuat secara ekonomi dan keterampilan saat mereka bebas nanti, sehingga mereka tidak lagi kembali ke jalan yang salah,” pintanya.
Sementara, Ketua Tim SAE Tarukkung Munardi menguraikan teknis pelaksanaan di lapangan. “Saat ini fokus kami adalah pengolahan tanah dan pemilihan bibit unggul. Kami ingin WB tidak hanya sekadar menanam, tetapi memahami manajemen pertanian dari hulu ke hilir, sehingga memiliki keahlian yang kompetitif saat kembali ke masyarakat,” urainya. (rls/hmn)







Komentar