MAJENE, PROSULBAR.COM – Kegiatan kemandirian bagi Warga Binaan (WB) sangat bermanfaat untuk memberikan bekal keterampilan dan peluang usaha bagi warga binaan saat kembali ke masyarakat.
Berbagai jenis kerajinan tangan bagi WB aktif melakukan di berbagai Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan (Rutan) di Indonesia, sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian, termasuk WB di Rutan Kelas IIB Majene dengan membuat produk kerajinan anyaman bambu dan lidi.
“Kegiatan ini diikuti WB dan diawasi langsung pegawai sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian yang rutin dilaksanakan di Rutan Majene,” terang Christy Jozef Thenu Kepala Rutan Majene, Kamis (05/02/2026).
Dijelaskan, rogram yang dilakukan WB melalui pendampingan instruktur, baik dari luar maupun langsung dari petugas Rutan, serta kolaborasi dengan dinas terkait dan pelaku UMKM setempat.
“Selain menambah keahlian, kegiatan produktif ini juga memberikan kesempatan bagi WB untuk memperoleh penghasilan dari setiap produk yang terjual,” jelasnya.
Berbagai karya yang dihasilkan lanjut Christy, meliputi anyaman piring lidi, keranjang tempat air kemasan, lampion, tudung saji, dan sapu lidi hingga produk yang terbuat dari barang bekas yang memiliki nilai jual.
“Ini merupakan komitmen pihak Rutan Majene dalam memberikan bekal keterampilan yang konkret bagi WB. Dan kami ingin memastikan bahwa setiap WB yang keluar dari sini tidak hanya membawa surat bebas, tetapi juga membawa keahlian dan keterampilan yang bisa menopang ekonomi keluarganya setelah bebas nantinya,” pinta Christy.
Dituturkan, hasil karya WB akan dipasarkan secara luas melalui galeri rutan dan platform daring. “Produk ini memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar UMKM. Dukungan dari masyarakat dan pemerintah daerah sangat penting sebagai bentuk apresiasi terhadap proses perubahan perilaku warga binaan menjadi lebih produktif,” ujafnya.
Sementara, Pembina Kemandirian Rutan Kelas IIB Majene Munardi Sakti menjelaskan, karya kerajinan tangan dilakukan dengan pendampingan intensif untuk menjaga standar kualitas.
“Kegiatan menganyam, bukan sekadar mengisi waktu, tapi melatih ketelitian, kesabaran, dan kreativitas. Kami memanfaatkan potensi lokal seperti bambu dan lidi yang melimpah di Majene, agar biaya produksi efisien namun hasil tetap bernilai tinggi,” tutur Munardi.
Ia berharap, melalui pembinaan kemandirian WB dapat mengubah stigma negatif masyarakat terhadap mantan narapidana. Dengan kemandirian ekonomi, WB diharapkan memiliki rasa percaya diri yang baru dan tidak lagi terjerumus pada tindak pidana karena sudah memiliki kemandirian finansial.
Ditempat yang sama, Seorang WB Rutan Majene Rusdi mengucap rasa syukur, karena mendapatkan kesempatan untuk tetap produktif di dalam jeruji besi.
“Saya merasa sangat terbantu karena diajarkan keterampilan yang sebelumnya tidak saya kuasai. Hasil dari penjualan piring lidi ini juga sangat membantu saya selama di dalam rutan,” akunya. (rls/hmn)







Komentar