Pilar AIK Harus Diajarkan Secara Komprehensif di Lingkungan Pendidikan Muhammadiyah

MAMUJU – Pengembangan Integrasi Al Islam Kemuhammadiyahan (AIK) sebagai Sistem Gerakan Pendidikan Muhammadiyah menjadi salah satu tema kajian pada Pengajian Ramadan 1447 H.

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Barat melaksanakan Pengajian Ramadhan 1447 H dengan tema “Implementasi Nilai Islam Berkemajuan Pendidikan Muhammadiyah”.

Pengajian yang dilaksanakan Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) berlangsung di Aula Kampus II Universitas Muhammadiyah Mamuju, Jalan Prof. Baharuddin Lopa, Mamuju, Ahad 1 Maret 2026.

Pengajian yang akan dilaksanakan selama dua hari ini, akan menampilkan sejumlah pemateri handal sesuai bidangnya masing-masing.

Pada sesi pertama secara hybrid, membahas tema “Pengembangan Integrasi AIK sebagai Sistem Gerakan Persyarikatan Muhammadiyah”.

Sesi pertama dipandu langsung Kaharuddin, S,Pd., M.Pd, Ketua MPKSDI PW Muhammadiyah Sulbar.

Adapun pemateri sesi pertama yakni; H. Ismail Ibrahim, M.Pdi.(Sekretaris PW Muhammadiyah Sulbar).), Dr Rustang Rasud, M.Pd.I (Mudir Ponpes Muhammadiyah Topoyo) dan Dr. Furqan Mawardi, M.Pi. (Ketua Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting PW Muhammadiyah Sulbar).

Pengembangan Integrasi AIK adalah konsep pendidikan yang memadukan ajaran Islam (akidah, akhlak, ibadah, muamalah) yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, sebagaimana dipahami oleh Muhammadiyah dengan ilmu pengetahuan umum, sains, teknologi, dan seni.

Tujuan utamanya adalah menghapus dikotomi (pemisahan) antara ilmu agama dan ilmu umum. Sehingga nilai-nilai AIK tidak hanya diajarkan sebagai teori, tetapi menjadi ruh, landasan, dan pembentuk karakter dalam seluruh aktivitas akademik, perilaku praktis, dan keilmuan.

Narasumber Ismail Ibrahim mengawali pemaparan pada dua pilar utama pendidikan di lingkungan Muhammadiyah, yakni Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.

“Kedua pilar ini tidak diajarkan secara terpisah, tapi diajarkan secara komprehensif,” ujarnya.

Adapun filosofi dan dasar pengembangan AIK, menurut Ismail Ibrahim, berlandaskan pada prinsip:

  1. Keimanan sebagai fondasi utama.
  2. Islam sebagai rahmatan lil alamin.
  3. Kemuhammadiyahan sebagai pedoman sosial dan organisatoris.
BACA JUGA:  Propam Polres Majene Sasar Polsek Jajaran

Ismail Ibrahim menegaskan, bahwa AIK sebagai sistem gerakan pendidikan Muhammadiyah, melihat bahwa pendidikan bukan sekadar perubahan sosial, tetapi merupakan gerakan dengan penguatan pendidikan secara internal dan eksternal.

Pada akhir pemaparannya Ismail Ibrahim menyampaikan kesimpulan bahwa AIK adalah fondasi pendidikan Muhammaddiyah yang menggabungkan iman, ilmu, dan aman.

Pendidikan Muhammadiyah melalui AIK, adalah gerakan sistematik yang mencetak manusia berkarakter Islami sekaligus agen perubahan sosial.

Sementara narasumber Rustang Rasud mengawali pemaparan yang lebih berorientasi pada pengembangan Pendidikan AIK.

Menurutnya, ada tiga dasar ideologis yang membentuk karakter dan nilai-nilai pendidikan di Muhammadiyah, yang berlandaskan pada prinsip tauhid, dakwah dan tajdid.

Rustang juga menyoroti pentingnya pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berakhlak mulia sebagai prioritas dalam sistem Pendidikan Muhammadiyah untuk mencapai tujuan pendidikan secara holistik.

Untuk itu, kata Rustang, salah satu strategi implementasi pendidikan Muhammadiyah adalah dilaksanakannya Pelatihan Pendidik untuk memastikan peningkatan kualitas SDM pendidik.

Rustang juga memaparkan pentingnya membangun Model Pendidikan dengan Menciptakan Model pendidikan Islam yang progresif dan kontekstual, sehingga mampu memberikan kontribusi positif bagi pendidikan di Indonesia secara umum.

Sementara narasumber Furqan Mawardi lebih menyoroti Pengembangan Integrasi AIK sebagai Sistem Gerakan Pendidikan Muhammadiyah dalam persfektif historis dan teologis.

Pada persfektif Historis, Furqan Mawardi menekankan pada AIK sebagai DNA Gerakan Muhammadiyah yang mengintegrasikan ilmu agama dan Ilmu Umum.

Persfektif historis ini bahkan telah dimulai sejak Muhammadiyah didirikan KH Ahmad Dahlan pada tahun 1912.

Adapun Persfektif teologis landasan AIK, kata Furqan Mawardi adalah Tauhid sebagai fondasi integarasi dengan implikasi teologis yakni:

  1. Tidak ada pemisahan abtara ilmu dan iman.
  2. Sains adalah bagian dari ibadah.
  3. Pendidikan adalah bagian dari dakwah.
BACA JUGA:  Idris Tinjau Finalisasi Pembangunan Kantor Gubernur Sulbar

Furqan Mawardi juga menyampaikan persfektif teologis landasan AIK adalah Ilmu sebagai Amanah Perdaban.

Adapun makna teologis adalah membaca bukan sekadar literasi, tetapi kesadaran peradaban. dan pendidikan adalah misi kenabian.

Furqan Mawardi juga menekankan pentingnya AIK menjadi sistem nilai dalam Pendidikan Muhammadiyah. Sebagai sistem nilai harus diejawantahkan dalam budaya sekolah atau budaya kampus.

Ada hal menarik yang disampaikan Furqan Mawardi tentang arah pengembangan integrasi AIK. Menurutnya, setiap guru dan dosen harus sadar bahwa ia sedang berdakwah.

Pada sesi kedua yang akan dilaksanakan besok, Senin 2 Maret akan mengangkat tema “Transformasi Mutu Pendidikan Muhammadiyah: Pengembangan Kualitas SDM Pendidikan Muhammadiyah”.

Adapun pemateri yang akan tampil pada sesi kedua yakni; Dr. Haksan Darwangsa, M.Si. (Kepala Balai Penjamin Mutu Pendidikan Provinsi Sulbar), Dr. Saharuddin, M.Pd. (Kepala Kantor Guru dan Tenaka Kependidikan Provinsi Sulbar), dan Muh. Rivai Khalik, S.PdI., M.PdI. (Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Mamuju).

Sementara pada sesi ketiga akan mengangkat tema “Mewujudkan Ekosistem Sekolah Muhammadiyah Inklusif dan Berkemajuan“.

Adapun pemateri yang akan tampil pada sesi ketiga yakni; Nursalam, S.Pd., M.Pd. (Wakil Ketua PW Muhammadiyah Provinsi Sulbar), dan Dr. H. Muh. Tahir, M.Si. (Rektor Unibersitas Muhammadiyah Mamuju).  (***)

Komentar