MAJENE, PROSULBAR.COM – Sinergi antara pengelola museum dan institusi pendidikan formal sangat penting untuk menjadikan museum sebagai media pembelajaran yang menarik, interaktif, sekaligus meningkatkan jumlah pengunjung.
Kolaborasi ini, yang melibatkan institusi pendidikan untuk memadukan kurikulum dengan kunjungan lapangan, menciptakan pengalaman belajar sejarah, budaya, dan sains yang kontekstual bagi generasi muda.
Hal ini, senada dituturkan Kepala Bidang Seni Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Majene Sufyan Ilbas saat menerima kunjungan edukatif di Museum Mandar Majene, Jumat (30/01/2026).

“Sebanyak 50 siswa SMK Megalink bersama guru pendamping melakukan kunjungan belajar ke Museum Mandar sebagai bagian dari pembelajaran sejarah dan budaya Mandar secara langsung,” terang Sufyan.
Kunjungan ini, mencerminkan peran Museum Mandar sebagai ruang belajar alternatif yang menghubungkan materi pendidikan dengan pengalaman nyata.
“Melalui koleksi, diorama, dan narasi sejarah yang disajikan, para pelajar diajak memahami nilai-nilai budaya, identitas, serta perjalanan sejarah Mandar dengan cara yang lebih kontekstual dan menarik,” urainya.
Mantan Kasubag Protokoler Sekretariat Pemkab Majene itu mengemukakan, dari sisi pariwisata, aktivitas kunjungan pelajar turut memperkuat posisi Museum Mandar sebagai destinasi wisata edukasi yang ramah bagi generasi muda.
“Museum tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga ruang rekreasi edukatif yang mendorong minat kunjungan wisata berbasis pengetahuan dan budaya lokal,” paparnya.
Ia berharap, Museum Mandar diharapkan terus menjadi simpul kolaborasi antara sektor pendidikan dan pariwisata ke depan. “Sekaligus wadah pembentukan karakter generasi muda melalui pengenalan sejarah dan budaya daerah,” harap MC senior itu. (rls/hmn)







Komentar